“Berbagai analisa tentang kondisi Kawasan Asia-Pasifik menunjukkan bahwa track perkembangannya cenderung belum memiliki arah yang jelas. Penyebabnya adalah peranan Amerika Serikat di kawasan ini. Sampai pada suatu level yang cukup signifikan, AS masih menjadi pemain utama arah kelanjutan peradaban Asia-Pasifik.”
Sekilas dipandang dari sisi pertahanan kawasan Asia Tenggara akan tiba masanya dimana negara-negara ASEAN akan bisa memposisikan diri terhadap masa depan sendiri tanpa campur tangan asing yang sering datang dan mempengaruhi perkembangan kawasan. Di sisi lain, selama ini ASEAN mampu untuk meredam berbagai gejolak yang akan timbul pada masing-masing negara yang memiliki potensi konflik. Ini setidaknya membuktikan bahwa anggota ASEAN boleh dikatakan berhasil memelihara perdamaian dan keamanan regional.
Pada umumnya, orang berpikir ASEAN harus berbuat lebih banyak untuk mengurangi krisis keuangan Asia Timur dan kekerasan yang penuh konsekuensi politik yang terjadi pada masing-masing negara di ASEAN seperti halnya juga di Indonesia. Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa selama beberapa tahun ke depan, ASEAN harus berubah jika ingin mengikuti perkembangan keadaan di Asia Tenggara dan Timur.
Sekelumit sejarah tentang masa lalu ketika ASEAN dengan pendiri utama lima negara sekitar 35 tahun yang lalu. Filipina dan Malaysia yang memiliki sengketa di utara Kalimantan. Malaysia dan Thailand memiliki masalah tentang perbatasan. Hubungan Indonesia dengan Malaysia dan Singapura bahkan lebih parah sampai ke taraf apa yang kita kenal dengan konfrontasi, walaupun konfrontrasi ini pun kemudian berakhir sebelum terbentuknya ASEAN Sementara itu, perang sipil Vietnam mengalami peningkatan eskalasi dan Amerika Serikat mulai turut campur. Laos dan Kamboja pun turut terjerat dalam situasi yang serupa. Dengan latar belakang geopolitik kawasan yang suram seperti itulah, Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand mendeklarasikan berdirinya ASEAN pada tahun 1967.
Bila dilihat lebih jauh baik secara historis seperti disebutkan di atas maupun secara geopolitik kawasan saat ini, antara negara anggota ASEAN satu sama lainnya maupun dengan negara-negara lain di sekitar ASEAN masih terdapat beraneka potensi konflik. Di sisi lain, dapat diakui bahwa ASEAN telah mampu mengelola keragaman besar Asia Tenggara dan meredam berbagai sengketa bilateral, walaupun banyak dari sengketa bilateral itu yang hanya teredam dan bisa saja sewaktu-waktu mencuat kembali ke permukaan, terutama seputar penyelesaian konflik perbatasan yang kadang memakan waktu puluhan tahun lamanya.
Permasalahan yang mengkhawatirkan:
1. Permasalahan Korea Utara-Selatan.
2. Kepulauan Spratley dan klaim RRC di Laut Cina Selatan.
3. Perdamaian Kamboja yang rapuh.
4. Proliferasi Senjata Konvensional.
5. Sengketa antara Taiwan dan China
Upaya penanggulangan permasalahan yang terjadi dalam kawasan ASEAN cenderung diselesaikan oleh ASEAN Regional Forum (ARF) melalui program-program Confidence Building Measures (CBMs) dan Preventive Diplomacy (PD) dan ini dapat berperan baik untuk mengurangi ketegangan yang ada di Laut Cina Selatan dan mendorong kerjasama antara pihak-pihak yang terkait untuk mengupayakan cara-cara yang damai dalam menyelesaikan permasalahan persengketaan perbatasan di kawasan ASEAN. Model penanganan konflik ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Eropa yang menggunakan resolusi konflik semacam OSCE, EC, dan WEU. Hal ini terutamanya disebabkan oleh kultur yang berbeda antara ASEAN dan Eropa. Oleh karena itu, ASEAN lebih cenderung mengandalkan ARF meskipun tergolong baru lahir, dan belum teruji untuk melakukan pemecahan permasalahan dengan pendekatan multilateral khususnya dalam menyelesaikan perselisihan maupun dalam menangani masalah-masalah keamanan di kawasan.
Pandangan terhadap negara-negara yang berpengaruh terhadap ASEAN:
1. Jepang
Peran Jepang sangat diharapkan dalam mengambil peran ekonomi yang lebih tegas. Di sisi lain, Jepang sendiri terlihat pasif dalam peran kekuatan politik dan militer karena masih ada rival yang kuat yaitu RRC. Jepang masih mengganggap bahwa kedaulatan suatu negara sebagai faktor yang paling penting. Kepentingan Jepang di kawasan seperti yang kita lihat sekarang yaitu: stabilitas kawasan di Asia Tenggara dan keamanan maritim / the sea lines of communication. Para elit pemerintah Jepang tampaknya bersikap waspada dan proaktif terhadap setiap perkembangan pada tataran regional. Jepang harus memberikan perhatian yang lebih besar pada kestabilan regional. Lagipula Jepang sendiri secara psikologis tentunya masih merasa sebagai bangsa yang besar di Asia Pasifik. Dalam mengimplementasikan peranan politik di kawasan ASEAN akan timbul perbedaan pandangan dengan AS. Instrumen yang paling efektif untuk menghadapi AS adalah ekonomi. Sikap lebih gentle bangsa Jepang sangat diperlukan untuk menghadapi AS. Jepang sendiri telah merencanakan peningkatan yang signifikan terhadap kekuatan militernya. Dan secara langsung maupun tidak langsung, ini akan berimbas pada negara-negara anggota ASEAN dalam bentuk peningkatan perlombaan senjata di kawasan.
2. RRC
Kontur dimensi multipolar yang kian kompleks mengharuskan tiap negara anggota ASEAN untuk adaptif terhadap dinamika geopolitik dan geostrategi kawasan. Seperti pada peningkatan kemampuan militer RRC yang oleh Amerika Serikat pun dipandang sebagai sebuah ancaman. International Role RRC telah terbuka lebar dengan diundangnya modal dan teknologi dari Barat dan Jepang. RRC tampaknya akan terus mempertahankan kepentingan dan strategic influence mereka di kawasan ASEAN baik secara politik maupun militer. Ada keprihatinan mengenai tindakan RRC beberapa tahun yang lalu di Kepulauan Spratley. Pengembangan lembaga-lembaga keamanan yang lebih kuat di kawasan sangat diperlukan. Di bidang ekonomi dan industri, langkah RRC yang mendorong warganya bermigrasi dari daerah pedesaan ke kota-kota untuk menciptakan 270 juta pekerjaan dalam 10 tahun ke depan patut diapresiasi. Kepentingan utama RRC terhadap negara-negara Asia terfokus pada pembangunan ekonomi yang cepat, dan bagi RRC, untuk diakui sebagai kekuatan Asia yang besar juga sangat penting. Dalam sebuah novel terbitan tahun 1997 yang menggambarkan terjadinya perang berskala global antara Amerika Serikat melawan RRC, diceritakan bahwa pemicunya adalah serangan RRC ke Laut Cina Selatan dan invasi militer RRC ke Vietnam. Walaupun novel tersebut adalah fiksi belaka, namun tetap ada korelasinya dengan kondisi yang terjadi saat ini, dan ada kemiripan dengan apa yang diungkapkan oleh pakar politik AS Samuel Huntington dalam bukunya The Clash of Civilization.
3. Australia
Australia mencengkeram ASEAN karena mereka melihat bahwa diri mereka sebagai bagian integral dari Asia Tenggara, yang menyumbang 14% dari perdagangan mereka. Mengingat kemungkinan peningkatan investasi dan perdagangan di kawasan, strategi Australia adalah untuk mempertahankan arus aliansi dengan kekuatan besar dan meningkatkan tindakan multilateral dengan negara-negara ASEAN melalui “the Five Power Defense Arrangements”, APEC dan ARF. Australia merupakan kekuatan menengah di dunia, namun dalam soal supremasi militer sedang meningkatkan ambisinya dalam mempertahankan dominasinya di kawasan Asia Pasifik. Dalam forum konsultatif yang dikenal dengan AUSMIN (Australia-US Ministerial) di Canberra yang dihadiri Menhan AS, Wakil Menlu AS, Menlu Australia dan Menhan Australia terungkap sejumlah ambisi strategis Canberra. Hadir pula Kepala Staf Gabungan AS dan Komandan Armada Pasifik AS. Media setempat melaporkan Australia tidak hanya mempertimbangkan partisipasinya dalam program sistem pertahanan rudal AS, tetapi juga mendorong negara adidaya itu untuk mengizinkan penjualan pesawat tempur generasi baru F-22 Raptor. Kedua isu strategis itu mendapat sinyal positif dari delegasi AS. Pada tahap pertama, dilakukan penilaian terhadap persyaratan kemampuan tempur udara Australia antara tahun 2010 dan 2015 serta kelayakan mempertahankan pesawat tempur F-111 hingga setelah 2010. Pada tahap kedua, peninjauan kembali itu akan mempertimbangkan tren kekuatan udara di kawasan Asia Pasifik hingga tahun 2045, dan kemampuan relatif pesawat tempur generasi sekarang maupun generasi keempat dan kelima seperti pesawat untuk segala matra Joint-Strike Fighter (JSF). Terjaganya kekuatan tempur udara itu diikuti pula oleh ambisi besar Australia yang akan memperkuat kapasitas tempur lautnya dengan mengembangkan armada kapal selam baru yang mampu membawa peluru kendali jarak jauh serta kapal selam kecil yang canggih. Untuk apa lagi ambisi tersebut kalau tidak untuk mengantisipasi perlombaan senjata di kawasan Asia Pasifik, karena hal tersebut muncul setelah negara-negara di kawasan Asia Pasifik, seperti India, Indonesia dan China juga mulai mengembangkan kekuatan armada kapal selamnya.
4. Rusia
Salah satu vektor politik luar negeri Rusia yang terpenting di Asia Pasifik adalah ASEAN. Seperti telah disampaikan oleh Presiden Rusia V.C.Putin, Summit Rusia-ASEAN merupakan pertemuan simbolik yang membuka halaman baru dalam kerjasama, dan memberikan dorongan kepada seluruh ikatan-ikatan antara Rusia dan ASEAN. Apabila dilihat fakta bahwa kini ASEAN menjadi “motor penggerak” dalam proses integrasi baru dalam skala besar regional, maka nilai pentingnya summit tersebut tidak terbatas pada hubungan Rusia dengan ASEAN serta anggota-anggotanya, melainkan juga bagi politik Rusia di sektor Timur seutuhnya. Konfirmasi fakta bahwa sikap ASEAN terhadap pengembangan kerjasama bilateral adalah sangat serius telah terbukti dengan diundangnya Presiden Rusia untuk menghadiri Summit Asia Timur (East Asia Summit) Pertama sebagai tamu khusus. Hal ini membuktikan pengakuan atas pengaruh Rusia terhadap politik dan kehidupan di Asia. Summit Rusia–ASEAN dengan sendirinya merupakan suatu peristiwa bersejarah dalam hubungan Rusia– ASEAN. Hal ini memberi kesempatan unik kepada pemimpin-pemimpin Rusia untuk bertemu pertama kali dalam format multilateral, untuk mengkonsolidasi hasil-hasil positif dalam hubungan Rusia–ASEAN serta menggariskan prioritas-prioritas dalam kerjasama serta promosi selanjutnya. Namun bagaimana pandangan Amerika tentang hal ini? Pandangan bahwa Rusia sebagai ancaman sudah jauh menurun dan kekuatan politik Rusia sendiri sudah jauh berkurang di wilayah ASEAN terutama bila dibandingkan era Uni Soviet. Rusia absen sebagai pemain di Asia Tenggara dan ini berdampak besar pula pada lingkungan keamanan regional. Hubungan yang dibangun selama masa Perang Dingin saat ini sedang direstrukturisasi karena tidak adanya pengaruh Soviet di wilayah ASEAN.
5. India
Hubungan yang kurang baik dengan Amerika pada tahun 1971 pernah dialami oleh India, saat Presiden Nixon menempatkan salah satu perusahaannya di Samudera Hindia sebagai peringatan pada masa perang dengan Pakistan, sampai akhirnya Maret 2007 dimana the Henry J. Hyde United States– India Peaceful Atomic Energy Cooperation Act (disebut juga Hyde Act) ditandatangani. India juga termasuk anggota Six Party Talks dalam pembicaraan isu nuklir Korea Utara dan pernah memainkan peran penting sebagai mediator dalam Perang Korea antara Amerika Serikat dan Komunis RRC. Hubungan dengan Jepang juga baik. Usaha diplomasi India di Davos, Swiss, dalam Forum Ekonomi Dunia, serta kunjungan Perdana Menteri Abe ke markas NATO di Eropa pada Januari 2007, membuktikan bahwa kedua negara berjuang untuk menanamkan pengaruhnya di kancah internasional. Hal ini yang jadi tantangan sekaligus dilema bagi Jepang, di satu sisi Jepang dapat memajukan langkahnya bersama-sama India, ataukah ia dapat maju sendiri di bawah bayang-bayang rivalnya, RRC. Kepentingan India di Asia Tenggara termasuk menjadi mitra dagang dengan negara-negara Asia Tenggara dan menjamin pengaruh regionalnya yang seimbang.
6. Amerika Serikat
Negara super power ini akan tetap terus berupaya menjaga regional balance of power dan memastikan berlanjutnya free trade. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan kekhawatirannya atas pertumbuhan militer RRC dan kekuatan ekonominya. Apakah ASEAN sendiri lebih suka Amerika Serikat tetap terlibat untuk mengimbangi RRC ataukah memang strategi Amerika untuk membendung pengaruh RRC ke ASEAN? Yang jelas, besar kemungkinan negara ini akan terus menjadi nomor satu pihak eksternal ASEAN di bidang perdagangan dan kekuatan militer. Amerika akan terus membenamkan pengaruhnya dan memiliki kompetensi dalam mengisi kevakuman dalam menjalin hubungan antar negara-negara Asia. Samuel Huntington mengatakan bahwa dunia yang tidak didominasi Amerika akan penuh kekacauan, kemunduran ekonomi, dan tidak demokratis. Robert Kagan pemikir dari Eropa mengecam Eropa karena kurang mau membantu Amerika dalam mengemban tanggung jawab mulia untuk menggaransi keamanan dan kesejahteraan dunia. Sementara Deepak Lal, ekonomi dari Inggris, menambahkan bahwa dominasi Amerika pada dasarnya bersifat progresif karena memajukan dan memfasilitasi globalisasi dimana pada keadaan sekarang sedang digerogoti oleh kekuatan Islam radikal. Lee Kuan Yew dari Singapura mengatakan bahwa hegemoni Amerika merupakan prasyarat bagi kemakmuran dan kemajuan Asia. Hegemonic behaviour tersebut diatas telah menuai protes di Indonesia, Filipina, Malaysia, Jepang termasuk juga Korea Selatan.
Kesimpulan
Kita melihat adanya upaya ASEAN untuk terus bekerjasama dengan dan melibatkan negara-negara yang mengalami kemajuan militer dan ekonomi pesat seperti RRC, Jepang dan India dalam sistem tata keamanan dan perekonomian demi terwujudnya stabilitas kawasan. Kebangkitan RRC akan menjadi pertimbangan besar bagi masa depan posisi AS dalam percaturan politik global dan regional. Hal ini terlihat dari perspektif Washington sendiri mengenai makna dari kebangkitan dan arti penting RRC bagi kepentingan AS nantinya, akankah menjadi patner, pesaing atau lebih jauh lagi sebagai musuh bagi kepentingan Amerika Serikat.
Beberapa hal yang menandai bahwa akan adanya power shift di kawasan ASEAN yaitu: peningkatan ekonomi dan militer Jepang dengan kepentingannya yaitu stabilitas kawasan, munculnya kekuatan baru yakni RRC sebagai pesaing utama Amerika Serikat, ambisi Australia dalam perlombaan senjata di kawasan, masuknya pengaruh Rusia walaupun cenderung terbatas, melesatnya perekonomian dan peningkatan militer India dengan ikut aktif dalam berbagai kegiatan multinasional maupun kawasan, serta masih berlanjutnya hegemoni kekuatan super power Amerika Serikat dalam hal balance of power di kawasan.
Penulis berpendapat bahwa masih terus berlangsungnya peranan negara-negara besar untuk mencampuri dan menanamkan pengaruhnya di kawasan ASEAN, serta belum adanya upaya yang signifikan untuk mengimbanginya dari negara ASEAN sendiri, sementara yang ada malah justru negara-negara ASEAN sangat menyukai bila menjadi anak emas dari Amerika Serikat dan aliansinya, merupakan fenomena yang cukup menarik untuk dianalisa lebih jauh. Akankah konsep ARF, ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom and Neutrality) dan TAC (Treaty of Amity and Cooperation) yang dimiliki oleh ASEAN mampu untuk membendung pengaruh external tersebut beberapa puluh tahun kedepan?

March 19th, 2010
Raja Samudera
Posted in 

yth
penulis,
Pak, atau mas, saya beri comment…
Kalau kita lihat perkembangan lingkungan strategis saat ini, pada lingkup global saat ini dimana dinamika persoalan Internasional semakin tinggi, sebagai akibat makin terbukanya sistem komunikasi dan teknologi, arus manusia dan kapital. Pada sisi lain membuka peluang bagi negara untuk melakukan kerjasama untuk mencapai kepentingan mereka dalam rangka kerja sama yang menguntungkan. Keterkaitan kepentingan dengan perkembangan global menyebabkan adanya konflik yang terjadi, terlebih konflik bersenjata akan berdampak keamanan dan keselamatan bangsa dikawasanya. Kemungkinan adanya perkembangan-perkembangan global negative lainnya, yaitu adanya kejahatan lintas nasional (transnational crimes) dan melemahnya batas nasional masing-masing negara.
Pada kawasan regional kepentingan negara tetap menjadi isu yang mengemuka, dikawasan asia diwarnai dengan kebangkitan militer beberapa negara yang dapat memicu persaingan dalam perimbangan kekuatan (Balance of power), namun akan ada dominasi dari negara tertentu. Hubungan antar negara ASEAN juga masih menyisakan masalah-masalah bilateral baik karena sejarah, teritorial, sumber daya alam, maupun karena isu-isu baru. Dipercaya bahwa masalah-masalah ini tidak akan menjadi konflik bersenjata, akan tetapi akan tetap melahirkan beban politik dan kesalahpahaman yang menghambat kerjasama ASEAN. Berkembangnya isu-isu transnasional, terutama terorisme, money laundering, dan penyelundupan senjata yang berkembang di Asia Tenggara adalah akibat ketidakmampuan ASEAN untuk bergerak dalam aksi yang kongkrit kerena perbedaan kepentingan akibat perubahan regional dan domestik di masing- masing negara anggota.
Pada tataran nasional bangsa ini masih menghadapi berbagai masalah-masalah dalam negeri dan tantangan yang menghampiri. Perkembangan-perkembangan baru akibat interaksi transnasional baik berupa kejahatan internasional, terorisme, perdagangan obat terlarang dan penyelundupan senjata gelap, persaingan di kawasan, dan adanya isu-isu demokrasi membuat batas-batas nasional menjadi semakin kabur. Argumen tentang kemutlakan kedaulatan nasioan lambat laun didefinisi kembali. Kesalahan dalam menangani masalah atau konflik di dalam negeri akan dengan mudah menjadi bahan infiltrasi kekuatan eksternal yang justru banyak dalam bentuk non-state actors dengan jaringan internasional mereka.
Kesimpulannya. Kepentingan negara-negara tertentu terhadap keamanan kawasan asia maupun asia tenggara merupakan faktor utama masuknya kekuatan asing. Khususnya di kawasan asia tenggara, meskipun ASEAN mulai menggeliat dengan memunculkan konsep Asean Security Community (ASC), namun kembali lagi tentunya realisasi dari konsep ini akan bergantung kepada kepentingan negara anggota ASEAN.
Seperti falsafah Sun Tzu berikut:
“TIDAK ADA LAWAN ABADI, TIDAK ADA KAWAN ABADI, YANG ADA HANYA KEPENTINGAN ABADI”.
terimakasih
Trima kasih pak commennya ,, banyak sekali dan mantab masukannya seperti postingan he he he.
Bapak berbicara tentang kepentingan dan balance of power.
Balance of power menurut sudut pandang realis: memandang masyarakat internasional sebagai aksi-reaksi yang tidak ekivalen—assymetris: power berhadapan dengan weakness. Basis dasar asimetris antar-state tersebut dapat diseimbangkan, yakni dengan cara setiap state bertindak saling mengawasi terhadap posisi masing-masing—check and balance.
Karena politik internasional yang anarkis berlawanan dengan keamanan dan stabilitas jangka panjang, maka nation-states semestinya memotori terciptanya keseimbangan dalam sistem power, sehingga dalam jangka absolut, keamanan, stabilitas, power, dan pengaruh dapat kemudian lebih potensial ditingkatkan. Morgenthau berpendapat bahwa balance of power dan politik luar negeri yang diciptakan untuk diraih dan dipelihara bukanlah hal yang tidak mungkin, lebih dari itu, merupakan mekanisme penting untuk menstabilkan komunitas internasional. Berkaitan erat dengan power, di dalam balance of power khususnya di kawasan ASEAN terdapat konsep national interest dan objectives antara lain tujuan fundamentalnya adalah menolak adanya hegemoni secara regional maupun global, yang pada intinya untuk mencegah terbitnya hegemoni dengan mengijinkan semua state untuk memelihara identitas, kesatuan, dan independensinya, hingga pada level optimal mencegah potensi agresi perang, dan lain sebagainya,,
Nah apakah apakah interest dan Balance of power tsb justru membawah kedamaian di kawasan atau malah menjadi theatre of war
salam kebangsaan
Just Slm
terimakasih mas,
Salam Kebangsaan.
tambang,energi,minyak,esdm…
[...]Perspektif keamanan di kawasan ASEAN dan campur tangan negara besar | Raja Samudera[...]…
Online Article……
[...]The information mentioned in the article are some of the best available [...]……
Great website…
[...]very intersting website, on an blog about[...]…
Another Website likes your page…
[...]one your visitors recently recommended the subsequent website[...]…