Genderang Perang Korea Utara

article-1189108-050E7C52000005DC-720_468x286

“Perang besar-besaran yang kami gelar akan menjadi perang suci yang melibatkan seluruh negara, seluruh rakyat, dan seluruh bangsa,” kata juru bicara Komisi Pertahanan Nasional Korut. Kim Jong-il merupakan kepala Komisi Pertahanan Nasional, posisi yang membuatnya menjadi pemimpin negara komunis berpenduduk 24 juta jiwa.

Korut membantah tuduhan menenggelamkan kapal perang Korsel dan menganggap tuduhan itu sebagai hal yang sengaja dibuat. Pyongyang juga akan segera bereaksi terhadap segala bentuk hukuman atau sanksi atas kemungkinan terjadinya perang terbuka.

“Ancaman bahwa anggota pasukan khusus Korea Utara diduga bisa menyusup untuk membuat perang kecil telah menjadi kenyataan,” tulis kantor berita Korea Selatan mengutip seorang pejabat senior departemen pertahanan. Menteri pertahanan menolak mengkonfirmasi laporan Yonhap, tapi Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak membahas kapabilitas kemampuan Utara mengobok-obok perang pada sebuah sidang yang dilaksanakan beberapa waktu lalu mendadak mengundang 150 perwira tinggi dari semua angkatan bersenjata.

Lee mengisyaratkan kuat bahwa Utara telah terlibat dalam tenggelamnya kapal perang Korea Selatan dengan 46 tentara tewas dekat perbatasan laut yang dipersengketakan pada tanggal 26 Maret. Kecurigaan terus berkembang bahwa kapal berbobot 1.200 ton dihantam torpedo dari negara komunis, yang telah disangkal. Lee juga mengatakan bahwa Korea Selatan harus lebih siap untuk melawan ancaman militer “asimetris”.

“Jika musuh-musuh (Korsel) mencoba melakukan pembalasan atau hukuman, atau jika mereka mengupayakan sanksi-sanksi atau serangan terhadap kami — kami akan menjawab semua ini dengan perang habis-habisan,” kata Kolonel militer Korut Park In-ho dari stasiun televisi angkatan laut Korut APTN dalam suatu wawancara eksklusif di Pyongyang.

Sebuah tim investigasi sipil-militer internasional mengatakan bukti mutlak menyatakan sebuah kapal selam Korut menembakkan sebuah torpedo yang menyebabkan ledakan dahsyat bawah air yang membelah kapal Cheonan. 58 tentara berhasil diselamatkan dari air Laut Kuning yang sangat dingin, tapi 46 lainnya tewas.

Para pejabat Korsel dan AS juga mengatakan mereka mempertimbangkan berbagai pilihan menanggapi atas penenggelaman kapal perang itu, mulai dari tindakan Dewan Keamanan PBB hingga hukuman-hukuman tambahan.

Beijing mengimbau semua pihak menahan diri setelah penyelidikan mempermasalahkan Korut berkaitan dengan tenggelamnya kapal angkatan laut Korsel dalam serangan terpedo yang mematikan, dan mengatakan pihaknya akan mempelajari penemuan penyelidikan itu.

“Semua pihak hendaknya tetap tenang dan berusaha mengendalikan diri,” kata juru- bicara kementerian luar negeri, Ma Zhaoxu, kepada para wartawan.

“Kami bersikap demi menyelamatkan perdamaian dan stabilitas kawasan, mempromosikan perundingan enam negara dan perlucutan senjata nuklir di semenanjung Korea,” katanya, merujuk pada perundingan-perundingan yang macet untuk menghentikan program nuklir Korut.

Pertanyaannya adalah : Analisis dari kejadian tersebut diatas apakah ini awal dari sebuah Perang Nuklir?  Apakah kebenaran berita bahwa Korut saat bersamaan sebelum kejadian terlihat iring – iringan kapal ke arah kejadian? Ataukah ada Negara Ketiga yang sengaja menenggelamkan Chenon ? Terlepas dari kebenaran yang mana dari berita berita tersebut di picu kemudian memanas semoga dapat diredam dengan mempertimbangkan nilai Kemanusian dan Perdamain dunia.

Source: tempo interaktif, vivanews, analisis daily, republika inline

Foto courtessy: reuters

You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Genderang Perang Korea Utara”

  1. Prima says:

    hmmmm,,,apapun yang terjadi semoga insiden cheonan memberikan pelajaran berharga yang bisa kita gunakan dalam meninjau kekuatan TNI AL,,,ya kan mas?

  2. Raja Samudera says:

    Betul sekali mas,, Trima kasih

    Pelajaran yang berharga yang patut kita gunakan dalam meninjau kekuatan TNI AL kita bahwasannya kecenderungan eskalasi konflik di kawasan, most of them adalah masalah dengan klaim perbatasan dimana kita juga memilikinya dan lebih dari 10 pulau maupun garis batas negara yang belum terselesaikan. Oleh karena itu pemerintah hendaknya memahami bahwa setiap saat peningkatan eskalasi konflik tersebut bisa saja terjadi kapan saja,

    pertanyaannya adalah apakah kekuatan yang di gelar tersebut sudah siap tempur, siap beroperasi, atau siap riwa riwi saja.

    Salam kebangsaaan

    Just Slm

  3. Prima says:

    yak,,,,semoga operational readyness TNI AL dapat beranjak dari level yang segitu saja tiap tahunnya….

    yang patut dicermati pula adalah jika main pukul rata alutsista berumur > 40 tahun dikandangkan, maka harus dipikirkan benar penggantinya

    yak, paling tidak kita harus belajar dari penggunaan kapal selam mini seperti korea utara, dan yang saya dengar selat malaka cocok untuk pengoperasian KS midget 22 m…jika eskalasi konflik meningkat tentu saja Midget sub akan memberikan keuntungan daya pukul di perairan dangkal

    salam

Leave a Reply

Seluruh tulisan yang dimuat di situs rajasamudera.com dilindungi oleh Undang-Undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Diperbolehkan untuk mengutip maupun menyebarluaskannya dengan syarat mencantumkan nama penulis dan link ke tulisan tersebut.

Seluruh tulisan di situs ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mewakili institusi penulis.