Bangkit atau Punah sebagai Bangsa Bahari

bangkit atau punah

“Dan Dialah yang menundukkan lautan supaya kamu dapat memakan daripadanya daging yang lembut, dan kamu keluarkan daripadanya perhiasan yang dapat kamu pakai, dan engkau lihat bahtera berlayar padanya dan agar kamu mencari karunianya supaya kamu bersyukur” (An-Nahl, 14).

Sungguh apabila kita mensyukuri nikmat Tuhan maka Tuhan akan memberikan tambahan nikmat yang tiada tara besarnya, namun bila kita mengkufuri nikmat Tuhan sesungguhnya Azab yang diterima juga akan pedih rasanya. Oleh karena itu Presiden Soekarno pada saat membuka Institut Angkatan Laut tahun 1953 di Surabaya berpesan agar kita terus menerus menggali potensi laut yang terpendam di dalamnya. Selanjutnya Beliau juga mengatakan agar kita tetap mengusahakan penyempurnaan tersebut dengan menggunakan kesempatan yang diberikan oleh kemerdekaan. Usahakan agar kita menjadi bangsa pelaut kembali. Dalam artian, bangsa pelaut yang mampu mengelola dan memanfaatkan potensi sektor kelautan dengan optimal. Pendek kata, bukan sekedar menjadi jongos di kapal, tetapi bangsa pelaut dalam arti cakrawati samudra. Bangsa pelaut yang mempunyai armada niaga, bangsa pelaut yang mempunyai armada militer, bangsa pelaut yang kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.

Itulah sebabnya, bangsa yang memiliki karakter maritim atau bahari tidak harus diartikan bangsa yang sebagian besar masyarakatnya adalah nelayan, tetapi bangsa yang menyadari kehidupan masa depannya bergantung pada lautan. Intinya, Laut sangat vital bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, laut sebagai tulang punggung perekonomian bangsa dan negara. Oleh karenanya Bangsa yang memiliki karakter bahari akan selalu menengok, menggali, memanfaatkan serta mengexplore akan besarnya manfaat sektor kelautan.

Negara Agraris yang terjebak dalam negeri Bahari

Wajah pertanian Indonesia bila terlihat dari data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2001, luas lahan Indonesia 11,6 juta hektare, sedangkan jumlah populasi aktif di sektor ini sekitar 50 juta jiwa dari total populasi 201,9 juta.  Jadi, seorang petani di Indonesia hanya mengelola lahan 500 meter persegi perkapita. Jauh lebih buruk dibandingkan dengan potret petani Thailand yang memiliki 1.850 meter persegi perkapita. Bandingkan pula dengan petani Amerika Serikat 10.000 meter persegi per kapita.

Di Amerika Serikat dan Jepang produktivitas pekerja (petani) bukan hanya diperhitungkan per ha sawah, tetapi penggunaan tenaga kerja dimanfaatkan seefisien mungkin dengan menggunakan perhitungan yang tepat.

Lantas apa yang dilaksanakan bila pertanian di negeri ini tidak menghasilkan seperti apa yang di bilang sebagai negara agraris? Produksi Beras menurun, hasil pertanian merangkak naik? Lantas bagaimana dengan sektor perikanan? Pernahkah rakyat Indonesia resah karena kenaikan harga ikan asin, pindang, bandeng dan lain lain akan hasil sumber daya laut?

Disisi lain adakah rakyat dan bangsa ini memberikan makan ikan di laut memberikan pupuk di laut agar ikannya banyak? Yang ada hanya tinggal mengambil dan mengambil di laut gratis freee sepanjang masa nyoooo. Wilayah Indonesia sangat luas tidak hanya jawa dan sumatera tetapi dari sabang sampai merauke. Wilayah laut nya sudah jelas lebih luas dari daratan dan seakan akan rentetan sejarah kolonialisme serta faham kontinental yang telah terbentuk menjadi National Character menjadikan negeri ini menjadi  Negara Agraris yang telah terjebak dalam negeri Bahari.

Negeri Bahari Hanya Slogan

Laut menjadi salah satu faktor dalam mempertahankan eksestensi wilayah suatu negara “Bahkan barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia”,  Mahan mengeluarkan pernyataan tersebut, dalam karyanya yang berjudul “The Influence of Sea Power Upon History” (1660-1783), yang terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1890 dan telah mengalami cetakan ulang beberapa kali, Alfred Thayer Mahan menggambarkan proses pertumbuhan Inggris yang pada abad ke-19 telah menjadi adidaya laut yang menguasai dunia pada waktu itu. Angkatan lautnya disegani dunia, sedangkan armada niaganya menjelajahi seluruh samudera, bangsa yang menguasai daratan betapa pun besar dan kuatnya angkatan daratnya, tidak akan mampu menguasai dunia. Di daratan banyak rintangan jurang yang curam dan terjal serta gunung yang tinggi dan sebagainya, sedangkan laut merupakan lapangan yang luas, bebas dan terbuka. Namun laut menyimpan hal yang penuh misteri yang bisa menimbulkan malapetaka melebihi daratan.

Teori Mahan telah membuktikan bahwa bukan jumlah penduduk semata-mata yang membuat suatu bangsa berjaya, melainkan jumlah pendududk yang berorientasikan ke laut dan yang ditopang oleh pemerintah yang memperhatikan dunia Baharinya. Wah terlalu muluk muluk yak kalau nyontoh negera maju dan mesti banyak alasannya, kan meraka dah ratusan tahun merdekanya kita kan baru 65 tahun.  Ya boleh boleh saja kalau banyak alasan memang tidak mau, tetapi kalau mau memulai ya banyak jalan.

Apakah benar sekarang ini Indonesia merupakan negara maritim? Negara yang mempunyai luas wilayah laut dari pada daratnya, negeri yang banyak pulaunya, namun belum menjadikan modal utama bahwa negari ini adalah negara maritim. Seberapa besar penduduk kita berorientasi ke laut? Sejauh mana bangsa ini memiliki gegraphical awerenes ? Sejauh mana bangsa ini memilki pemimpin yang memilki Ocean Leadership yang cerdas dan berwawasan Global? Segudang pertanyaan yang berhubungan dengan Kemaritiman belum bisa menunjukkan bahwa bangsa ini adalah Negara Maritim. Padahal sejatinya Bangsa Ini terlahir sebagai bangsa Maritim, Nusantara adalah diantara pulau yang seharusnya dimengerti akan maknanya sebagai bangsa bahari.  Indonesia adalah “Negara kepulauan”, Indonesia adalah “Negara Bahari”, Indonesia adalah “Negara Maritim” dan Indonesia ”Berjiwa Bahari” serta “Nenek Moyangku Orang Pelaut” hanya merupakan slogan kata. Ini yang di ucapkan hanya dibibir saja tak ubahnya lips services dari anak anak yang masih ciprit sampe tuek.

Bila negeri ini telah menyebut sebagai negeri bahari. Apakah laut telah dijadikan ladang mata pencaharian? Apakah laut telah dijadikan sebagai tempat menggalang kekuatan? Apakah negeri ini mempunyai armada laut yang kuat yang berarti bisa mempertahankan NKRI dari serangan luar? Apakah Political Will dari Pemerintah memilki Visi dan Misi Kemaritiman yang Jelas? Tercatat Era Bung Karno dan Mendiang Gus Dur dengan Gebrakannya akan visi dan misinya sebagai negara maritim. Selanjutnya Kembali keee Laptop kata pak tukul.

Bagi Bangsa ini menyandang sebutan “Negara Maritim” atau negara kepulauan, sebutan ini mustahil ditinggalkan kecuali ada bencana alam yang menjadikan negeri ini menjadi negeri Benua Indonesia, sehingga kita akan memilki peradaban baru. Lain halnya dengan sebutan “Negara Agraris” yang suatu saat bisa berganti dengan industri. Konsekwensi dari negeri bahari seyogyanya dapat terwujudnya aktifitas pelayaran di wilayah Indonesia, bangsa yang  kesibukannya di laut menandingi irama gelombang lautan itu sendiri.

Bangkit agar Tidak Punah

Sebuah bangsa bila kehilangan jati dirinya maka bangsa tersebut tidak akan mampu bertahan hidup. Untuk itu sudah saatnya lah kita bangkit, mari bersama-sama membangun kembali dunia maritim Indonesia, menghargai laut dan menjaga eksistensi. Sekarang laut bukan hanya sebagai sumber protein dan tempat pelaut mengadakan hubungan antar pulau. Oleh karenanya, mengoptimalkan potensi laut menjadi harga mati yang harus segera di realisasikan oleh pemerintah Indonesia.

Kembangkan Pertambangan laut dan pemanfaatanya sebagai sumber energi, Tingkatkan sektor Perikanan, Tak ketinggalan pula raup keuntungan dari sektor wisata bahari. Dengan kata lain, kompleksitas dunia bahari makin berekembang sehingga perlu antisipasi untuk merencanakan masa depan bangsa dan negara untuk kepentingan rakyat yang sebesar besarnya. Mari Hilangkan pemikiran kita bahwa sesuatu hal yang buruk larinya ke laut, seperti dalam percakapan sehari hari apabila ada yang jelek kadang kita bilang: ke laut aja? Seakan akan menyiratkan laut adalah tempat pembuangan yang jelek. Maka pantas saja bila negeri ini dibandingkan negeri yang maju, bayangkan bila anda masuk pelabuhan London, New York, Sydney, Singapura dan seantero negara maritim yang maju bagaimana pelabuhannya? Indah dan menakjubkan. Selanjutnya mari kita mengaca pada diri sendiri masuk pelabuhan Surabaya, Jakarta dan seluruh pelabuhan di Negeri Maritim Indonesia, Kumuh, Kotor nan Jorok.

Saya yakin ini bukan sebuah kenistaan melainkan cita-cita yang luhur sebagai bangsa yang mandiri, sejahtera dan berwibawa dapat kita wujudkan demi kemakmuran rakyat. Namun kita butuh pemimpin yang punya visi dan misi yang patriotik. Pemimpin dunia yang memiliki pandangan akan keseimbangan ekonomi, peradaban, kemajuan dan kemandirian bangsa. Memang tidak mudah dalam mencari figure pemimpin seperti itu, tapi saya yakin yakin dari 250 juta lebih penduduk negeri ini pada saatnya akan muncul. Indonesia pasti mampu melahirkan pemimpin besar, pemimpin dunia seperti apa yang pernah di sampaikan oleh Bung Karno “beri saya sepuluh pemuda, niscaya saya akan menguasai dunia”. (saatnya subuh 04:38 – 24 july 2010)

You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Bangkit atau Punah sebagai Bangsa Bahari”

  1. bunda Annisa says:

    Assalamualaikum “R-S”

    Sebenarnya kebangkitan bangsa bahari sudah dimulai sejak dilahirkannya “Deklarasi Juanda” (13 Des 1957), atau yg lebih dikenal dgn konsep “Wawasan Nusantara”, yg baru diakui dunia 25 th kemudian, tepatnya th 1982, ketika PBB dalam sidangnya menyepakati Konvensi Int’l ttg Hukum Laut (UNCLOS), yg kemudian diratifikasi Indonesia. Di dunia Int’l Ind lalu dikenal sbagai negara pelopor hukum laut, yg menerapkan prinsip2 negara kepulauan dalam mengelola negara.

    Kemudian berturut-turut, disusul dgn :
    1. Pidato Presiden RI di Makasar pd tgl 18 Des 1996, ttg “Pembangunan Benua Maritim Indonesia”;
    2. Pd th 1998 lahirnya “Deklarasi Bunaken”, yg intinya bahwa laut merupakan peluang, tantangan dan harapan utk masa depan persatuan, kesatuan dan pembangunan bgs Indonesia;
    3. Pd tgl. 26 Okt 1999 dibentuknya Departemen Eksplorasi Laut, yg pada bulan Desember th yg sama berubah nama menjadi Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, lalu sejak awal 2001 berubah lagi mjdi Dep. Kelautan dan Perikanan (DKP) hingga sekarang;
    4. Kemudian pencanangan tgl 13 Desember oleh alm KH Abdurrahman Wahid (waktu itu Presiden) sebagai Hari Nusantara;
    5. Diteruskan oleh Presiden Megawati, dgn menetapkan tgl 13 Desember sbgai hari Nusantara berdasarkan Keppres 126/2001, dan menjadikan tgl tsb sebagai hari resmi perayaan nasional;
    6. Pd tgl 21 Sept 2007 dibentuklah Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) berdarkan Keppres 21/2007, yg mrpkan penyempurnaan dr Dewan Maritim Indonesia (DMI), yg dibentuk berdasarkan Keppres 161/1999.

    Sudah sejak lama dan begitu banyak upaya dan langkah2 yg ditempuh pemerintah dalam upaya senantiasa membangkitkan karakter kebahari-an Indonesia, dpt dilihat dr paparan tsb di atas. Sayangnya bangsa Indonesia terlalu terlena dgn hanya bangga memiliki kekayaan laut yg melimpah, namun tdk mampu pengelolanya dengan maksimal.

    Penyebab lain, krn kurangnya anggaran yg menjadi modal bagi DKP utk menjalankan tugasnya, mengelola laut, dan hal ini tdk pernah dilantangkan ke luar oleh pejabat DKP dalam memperjuangkan kenaikan anggaran. Karena memang DKP belum sepenuhnya tampil sebagai regulator yg disegani. DKP lebih berperan sbgai operator drpda menyusun regulasi yang kondusif dan menentukan insentif bagi industri kelautan dan perikanan. Maka dari itulah praktis semua regulasi yg pernah dilahirkan dan dicanangkan, hanya mampu menjadi slogan belaka.

    Sulit mendobrak situasi yang berkembang saat ini, yg tentunya hanya semakin membawa keterpurukan potensi kebahari-an bangsa. Sebagai rakyat jelata yang hanya mampu menyuarakan/meneriakkan suara hati keprihatinan, hanya bisa berharap : semoga para petinggi, penguasa, penyalur suara rakyat, terutama sekali lembaga/instansi yg terkait langsung dengan laut (baca ALRI), mau dan mampu “duduk bersama”, setidaknya menyamakan visi dan misi, dalam rangka membangkitkan karakter kebahari-an bangsa, dan tentu saja tdk hanya sekedar bangkit, namun dalam skala yang lebih luas, mengambil/melaksanakan tindakan yang bermanfaat dan berarti.

    Karena membangun laut berarti membangun masa depan Indonesia yang mandiri, sejahtera, maju dan disegani dalam percaturan dunia Internasional, dan diharapkan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

    Semoga Allah meridloi langkah kita.

  2. Raja Samudera says:

    Thanks ur atensi

    Kesimpulannya adalah: Geographical Awerenes, Ocean leadership dan political will yang akan memunculkan style of government. Tanpa instruments tersebut seribu deklarasi hanya akan bisa melambai lambaikan nyiur di pantai, sementara sampan raja Kelana butuh angin yang kencang untuk mencapai pulau nan Indah Permai.

    Masalah jiwa bahari dari bangsa ini tidak akan pernah padam karena telah menjadi jiwa bangsa Indonesia dari generasi masa lalu, kini dan yang akan datang..Nenek Moyangku orang pelaut…Jiwa bahariku tak akan pernah surut…instrumen diatas yg dibutuhkan sekarang.

  3. cinta bahari says:

    menarik sekali tulisannya, sebagai negara maritim yang nenek moyang nya seorang pelaut dan luas wilayah yang lebih luas laut nya dari pada darat. indonesia bisa makmur jika memanfaat dan mengelola dengan baik kekayaan laut nya

Leave a Reply

Seluruh tulisan yang dimuat di situs rajasamudera.com dilindungi oleh Undang-Undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Diperbolehkan untuk mengutip maupun menyebarluaskannya dengan syarat mencantumkan nama penulis dan link ke tulisan tersebut.

Seluruh tulisan di situs ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mewakili institusi penulis.