Makna Kemerdekaan dalam konteks Proklamasi dan konteks Ramadhan

IMG-20120809-00676

Rakyat dimana mana dibawah kolang langit ini, tidak mau ditindas oleh bangsa lain, tidak mau di ekploiter oleh golongan apapun, meskipun golongan itu adalah dari bangsanya sendiri. Rakyat dimana mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan dari kemiskinan, dan kebebasan dari rasa takut, baik yang karena ancaman di dalam negeri maupun ancaman dari luar negeri. Sebenarnya kita ini merdeka dari siapa ? dari Belanda kah dari Jepangkah lah wong mereka lebih maju dan lebih makmur rakyatnya sampai sekarang, Sementara rakyat kita?. Rakyat dimana mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan untuk menggerakkan secara konstruktif ia punya aktivited – sosial, untuk mempertinggi kebahagian individu dan kebahagiaan masyarakat.  Rakyat dimana mana dibawah kolong langit ini, menuntut kebebasan untuk mengeluarkan pendapat yaitu menuntut hak hak yang lazimnya dinamakan demokrasi. Itulah sebenarnya tuntutan Rakyat Indonesia.

Konteks Proklamasi

Itulah tuntutan Rakyat yang telah hidup dalam zaman kemerdekaan bangsanya, namun masihkah kita memiliki semangat Proklamasi seperti apa yang dibilang Bung Karno saat Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1955. “Apa yang dinamakan semangat proklamasi? Semangat Proklamasi adalah semangat rela berjuang, berjuang mati matian dengan penuh idealisme dan dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri. Semangat Proklamasi adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan.”

Kemerdekaan dalam konteks proklamasi mempunyai makna, terbebasnya bangsa Indonesia dari kaum penjajah sehingga menjadi bangsa yang memiliki kedaulatan penuh untuk mengatur dirinya sendiri. Bahkan Seribu dewa dari khayangan tak dapat menghancurkan kemerdekaan sesuatu bangsa, jikalau bangsa itu hatinya telah berkobar kobar dengan api kemerdekaan. Oleh karena itu hendaknya kemerdekaan yang telah dicapai oleh para pendahulu bangsa haruslah membawa perkembangan sejati jatinya hidup, hidup setaraf yang lebih tinggi.

Hendaknya peringatan HUT Kemerdekan tidak dijadikan seremonial belaka namun dijadikan momentum mawas diri. Apakah kita sudah merdeka? Dalam hati yang paling dalam apakah kemerdekaan dalam konteks Proklamasi telah menjadi kenyataan apakah masih angan angan?. 67 tahun bangsa ini merdeka banyak kemajuan pembangunan yang telah di capai oleh bangsa ini namun bangsa ini masih sangat mudah diatur oleh kekuatan asing dalam perekonomian, politik dan sendi kehidupan lainya. Dibeberapa sudut kehidupan masih dihiasi dengan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Bahkan yang lebih parah lagi bangsa Indonesia begitu mudah dipermainkan oleh negeri lain. Apabila dibandingkan dengan negara tetangga bangsa ini ketinggalan jauh dari segi Pertahanan maupun perekonomiannya, disisi lain sejak proklamasi kemerdekan kita pernah mengalami kehebatan dikawasan dengan sebutan Macan Asia. Bagi yang bilang sudah maju perekonomiannya itu merupakan kemajuan perekonomian keluarga dan kroninya, hingga detik ini masih banyak kampung belum  mengenyam cahaya listrik, jutaan petani masih tidur dengan sapinya, jutaan anak terlantar tidak sekolah dan masih banyak ketimpangan yang terjadi yang kita jumpai tiap hari di negeri ini.

Konteks Ramadhan

Sunset Sya’ban diufuk barat mulai tenggelam beriringan dengan azimuth dalam hamparan horizon cakrawala. Pertanda bulan Ramadhan telah tiba bulan yang penuh dengan berkah dan ampunannya. Bulan dimana kita dapat berjumpa dengan insan insan yang dahaga akan kasih sayang sang khalik. Saatnya untuk menempa jiwa jiwa yang memiliki semangat Proklamasi Kemerdekaan. Hanya bangsa yang jiwanya jiwa berapi api bisa menjadi bangsa yang besar. Hal ini telah di alami oleh sejarah umat manusia. Lihatlah Rosulallah Muhammad Bin abdullah, beliau selalu berjuang, selalu berjuang, selalu berjuang, selalu menyuruh orang beramal, beramal, berbuat, berbuat,berbuat. Beliau bukanlah ahli yang selalu duduk didalam ketafakuran, tafakur saja, tidak berhenti henti tafakur, tidak! Beliau ahli amal, ahli perbuatan, ahli perjuangan, Beliau itu lah yang harus di tiru oleh Pemimpin Bangsa.

Kemerdekaan dalam konteks bulan Ramadhan adalah terbebasnya jiwa dari belenggu nafsu yang menjajah diri kita seperti arogansi, kebohongan, iri, marah, dengki, penindasan, kesewenang-wenangan dan sejumlah penyakit hati lainnya yang melekat pada diri manusia. Saat Pidato proklamasi tanggal 17 Agustus 1947 Bung Karno menyampaikan.”Ingatlah kepada Tuhan. Carilah pimpinan Tuhan. Bangsa yang tidak dipimpin Tuhan, diperintah oleh orang orang yang Zholim! Men must be governed by God, or they will be governed by Tyrants. Ingatlah akan hal ini setiap waktu.!

Saat ini menjelang HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2012 spanduk Ramadhan berdampingan dengan spanduk merayakan kemerdekaan. Menurut saya arti yang terkandung adalah mengingatkan kita semua Rakyat Indonesia, Rakyat yang Melarat hidupnya, Rakyat yang Menengah dan mewah hidupnya, serta Rakyat yang merasakan kursi empuk Gedung DPR, Rakyat yang hari ini masih merampok bangsanya, Rakyat yang hari ini masih menjual kekayaan bangsanya, makna tersebut adalah agar makna kemerdekaan dalam konteks proklamasi tesebut tidak hilang dan tidak luntur dengan makna kemerdekaan dalam konteks Ramadhan.

Bulan Puasa pada hakekatnya adalah wadah sebuah pembebasan setiap jiwa manusia dari sifat-sifat syetan maupun hewani. Makna inilah yang belum benar-benar diresapi dan dijalani oleh masyarakat Indonesia. Sehingga tak pelak lagi Negeri ini belakangan riuh rendah dengan nuansa kebun binatang mulai dari Kerbau, cicak, buaya, babi dan semua komunitas kebun binatang. Hendaknya kedua momen ini tidak dijadikan rutinitas tahunan belaka. THR, mudik, antrian tiket, harga bahan pokok naik, hiburan dan liburan justru menjadi bahasan utama dibandingkan dengan implementasi nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari.

Apabila hati Rakyat Indonesia masih terjajah oleh syifat-sifat kapitalisme modern, maka secara langsung akan mempengaruhi tatanan masyarakat dan pemerintahan yang penuh dengan ketidakpastian, dan kesemrawutan, yang pada akhirnya mempengaruhi bangsa ini. Hukum bagaikan The Spider Law bahwa hanya orang orang yang ciprit saja bisa di hukum sementara orang besar tak pernah tersentuh dan bahkan mbuuuulet saja penyelesainnya manakala hukum bisa di beli. Korupsi merajalela tanpa terkendali bahkan kitab suci pun di korupsi, penggusuran, mafia peradilan dan sederet tindakan kesewenang-wenangan akan terus menghiasi negeri tercinta. Maka Selanjutnya Kemerdekan tinggal mimpi dan hanya di angan angan. Marilah kita petik arti sebuah Ramadhan yang berdampingan dengan Kemerdekaan. Karena kita juga tidak bisa melaksanakan Ramadhan dengan damai kalau hati kita belum merdeka.

Tidak ada perdamaian, sebelum ada damai dihati kita! Dan hati kita akan tetap tidak damai, akan tetap memberontak, selama kemerdekaan negara kita belum kembali sepenuh penuhnya. Saat nya kita membebaskan jiwa dari nafsu angkara dengan kemerdekaan pengendalian diri masing masing Rakyat yang implementasinya akan terlihat pada makna kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.

Selamat Berpuasa …. MERDEKA!!!

foto diambil: Sebuah rumah antara Sesko Au dan Boscha 09082012

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Makna Kemerdekaan dalam konteks Proklamasi dan konteks Ramadhan”

  1. SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

    Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.

    Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamsi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.

    Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun.”Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi,” ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.

    Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.

    Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Semoga menjadi bahan masukan. Terimakasih (http://dasmandj.blogspot.com)

  2. Raja Samudera says:

    Salam Hormat dan Salam Kenal pak Dasman

    Luar biasa masukan dari bapak sangat menambah wawasan dan mengerti akan sejarah Prokamasi Negara Kita, memang benar perbedaan adalah suatu anugera tergantung bagaimana pula kita menyikapinya dan memahaminya sehingga tidak timbul permasalahan permasalaah yang mekin meruncing, namun bisa menyatukan kembali persatuan yang terkoyak semenjak Proklamasi kemerdekaan.

    Semoga intitusi yang terkait juga memahami adanya perubahan tersebut dan menjadikan materi ajaran yang sangat mendidik kepada rakyat indonesia

    Trima kasih pak Dasman saya juga sudah mampir ke blog bapak luar biasa..

    Selamat Berjuang

    Warm regards

    just Slm

Leave a Reply

*

Seluruh tulisan yang dimuat di situs rajasamudera.com dilindungi oleh Undang-Undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Diperbolehkan untuk mengutip maupun menyebarluaskannya dengan syarat mencantumkan nama penulis dan link ke tulisan tersebut.

Seluruh tulisan di situs ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mewakili institusi penulis.