Bangun lautmu Maka akan Jaya Bangsamu

di balikpapan

“Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.”

Secara kodrati posisi geografis Indonesia terletak antara pertemuan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik serta pertemuan Benua Asia dan Benua Australia. Hal ini merupakan competitive advantage atas negeri-negeri lain, dalam segi geoekonomis, geopolitis dan geostrategis.  jikalau dengan kata kata manusia, bangsa Indonesia tidak bergeming untuk bersama sama membangun lautnya maka masih ragukah apabila Tuhan Yang Maha Kuasa berkata tentang laut dan keberadaan tentang bumi. Maka apakah ayat Tuhan tersebut diatas masih menyangsikan rakyat yang jumlahnya hampir 250 juta jiwa lebih, untuk bersama sama membangun negeri ini dengan menampilkan sosok sosok yang memilki ocean leadership yang berwawasan global yang dapat membangun masyarakat yang memilki geographical awerenes. The Sleeping Giant yang merupakan kumpulan dari puluhan sampai ratusan juta otak yang telah tertidur selama ratusan tahun, sanggupkah bangkit untuk menuai kembali masa masa kejayaan bangsa sebagai bangsa pelaut yang benar benar mengerti akan jati diri sebagai bangsa yang memiliki gugusan pulau pulau terbesar di Dunia. Mampukah kita menyadari bahwasannya, “Negeri Kita adalah sebuah negeri kepulauan di batas Dua Samudra dan dua Benua yang mampu menggenggam jantung perekonomian dunia untuk menuju kejayaan bangsa”

Missing Link Kejayaan Bangsa Indonesia sebagai bangsa Bahari

Dalam catatan I Ching yang hidup pada abad ke 7 China menyatakan, bahwa ada seorang raja mudah Khmer yang sekarang Kamboja pernah membual akan memakan kepala Raja Che Li Fo yang terkenal pada masanya. Raja Che Li Fo menanggapinya dan mengirimkan Angkatan Lautnya yang kuat untuk melakukan serangan yang mengejutkan atas ibukota Khmer dan memenggal kepala Rajanya. Kepala raja tersebut dibalsam dan dibawah kembali serta ditunjukkan kepada penggantinya sebagai tanda bukti, yang mengandung arti jangan berbicara seenaknya. Sejak saat itulah khmer menjadi daerah taklukan Che Li Fo. Pada masa tersebut Khmer merupakan kerajaan yang terbesar dimana Muang Thai tunduk kepadanya. Itulah Che Li Fo atau Kerajaan Sriwijaya yang telah menjadi kerajaan Maritim besar yang telah menorehkan catatannya dalam berbagai referensi dan literatur yang berhubungan dengan masa masa kejayaan maritim bangsa Indonesia. Dari bukti catatan sejarah kejayaan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah sebuah entitas besar yang memilki sejarah yang besar.

Ambruknya kerajaan Sriwijaya disusul Bangkitnya Kerajaan Majapahit sekitar abad ke 13 dimana pada awal berdirinya masyarakat yang semula bercorak agraris lalu berkembang menjadi sebuah kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada mampu menyatukan Nusantara dan diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang mempunyai tanggung jawab untuk memimpin kekuatan Armada laut Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yang kuat, Majapahit berhasil menguasai wilayah yang amat luas hingga sampai ke Madagaskar. Temaramnya kerjaan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Bukti kekuatan maritim Kerajaan Demak yang jarang diexspose adalah bahwa kerajaan ini mampu mengirim armada laut yang dipimpin Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor dengan mengerahkan 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit untuk menyerbu Portugis di Malaka.

Setelah era penjajahan yang menyesakkan, para pendahulu pengemban amanah rakyat meyakini kekuatan bangsa ini hanya bisa dibangun dengan membangun kekuatan laut yang disegani dan memiliki bargaining dengan negara lain. Oleh karena itu setelah kemerdekaan Presiden Sokarno memilki geographical awerenes dan menyadari akan kejayaan masa lampau, dalam usia kemerdekaan yang relatif singkat pada era 1960-an kekuatan Angkatan Laut Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Kekuatan kapal perang tersebut yang berjumlah 234 kapal perang terdiri dari sebuah kapal penjelajah (cruiser), 12 kapal selam, 7 kapal perusak (destroyer), 7 Fregat, dan beberapa jenis kapal perang lain.

Era kolonial yang menyebabkan budaya sebagai bangsa bahari dikikis secara perlahan, halus dan sistematik. Kemudian dilanjutkan dengan belum dimilkinya Ocean Policy bagi para pemangku kebijakan yang secara diskriptif bertujuan untuk membangun negara maritim yang besar dan kuat, kini kejayaan sebagai bangsa bahari itu adalah sebuah kenangan. Lantas siapakah yang seharusnya membangkitkan “The sleeping Giant” itu? Kalau seluruh penghuni kepulauan Nusantara ini tidur maka kelautan akan tidak tampak gemuruhnya yang nampak hanyalah riak riak gelombang yang hanya menyesakkan tenggorokan pada akhirnya.

Ocean Policy yang berkarakter Negara Kepulauan Indonesia.

Keunikan posisi silang dan negara kepulauan, Indonesia yang secara matematik 2/3 wilayah asia tenggara berada dalam yurisdiksi Nasional Indonesia. Kondisi tersebut membawah implikasi terhadap semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu aspek pertahanan keamanan, aspek politik, aspek ekonomi dan aspek sosial budaya. Konsep Copy Paste dari konsep negara lain hendaknya jangan dijadikan instrumen utama dalam menyusun sebuah strategi pembangunan bangsa khususnya pada penyusunan Ocean Policy. Sehingga mampu untuk mencapai tujuan dengan jangka waktu yang lama, tentunya ini memerlukan pengkajian yang memakan pikiran, waktu dan anggaran.

Dalam penyusunan Ocean Policy terkandung pula visi maritim didalamnya, seiring dengan langkah-langkah konkrit lanjutan menyangkut industri strategis dan isntrumen kemaritiman lainnya. Oleh karena istilah kelautan dan maritim harus dibedakan. Kelautan merujuk kepada laut sebagai wilayah geopolitik maupun wilayah sumber daya alam, sedangkan maritim merujuk pada kegiatan ekonomi yang terkait dengan perkapalan, baik armada niaga maupun militer. Dengan demikian Ocean Policy merupakan dasar bagi Maritime Policy sebagai instrumen aplikatifnya.

Abad 21 negara negara di dunia berlomba dalam meningkatkan kekuatan maritimnya masing masing sehingga muncullah ocean policy yang dimilikinya. Amerika Serikat membangun kekuatan maritimnya dengan slogan “kekuatan maritim melindungi cara hidup Amerika”. Lahirlah “A Cooperative Strategy for 21st Century Sea Power”, yang dipublikasi Oktober 2007 oleh United States Marine Corps, United States Coast Guard dan Department of Navy.  Aliansi dengan NATO membentuk Global Maritime Partnership Initiative yang bertujuan untuk menjaga ketertiban dan perdamain dunia tentunya dibawah pengaruhnya. China membangun Ocean Policy dengan strateginya “Chain of Pearl” yang bertujuan untuk membangun dan meyelamatkan urat nadi perdagangannya lewat laut. India membangun Ocean policynya dengan mengeluarkan “Freedom to Use the Seas: Maritime Military Strategy” yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan kekuatan angkatan laut India. Inggrispun tidak kalah dengan mengeluarkan semboyan “Britain Rules the Waves” yang bertujuan untuk membangun kekuatan maritim inggris dalam menghadapi era globalisasi.

Kini Indonesia berada dalam lingkaran kehadiran negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Australia, India dan Cina bahkan Malaysia serta Singapura yang merupakan negera kecil akan berkembang seperti Inggris tentang visi kemaritimannya, apakah mereka negara kepulauan?  Perbedaannya adalah bahwa mereka sudah mempunyai visi dan Ocean Policy. Lantas apa yang terjadi dengan negeri ini ? negeri yang dinamakan Zamrud Katulistiwa kaya akan sumber daya laut, negeri yang memilki ribuan pulau bentangan luas wilayah yang bagian terbesarnya adalah wilayah laut. Sudah kah kita memilki Ocean policy yang jelas sebagai jati diri bangsa sebagai penghuni negara kepulauan terbesar di dunia. Kapankah kita bangkit dan menampilkan sosok yang mempunyai visi dan strategi yang cerdas dan kreatif untuk keluar dari paradigma agraris tradisional ke arah paradigma maritim yang rasional dan berwawasan global?

Penutup dan upaya Character of Government menuju Ocean Policy

Untuk membangun kekuatan maritim diperlukan enam elemen pokok, yaitu; Geographical Position, Phisical Confirmation, Extent of territory, Number of population, Character of the People and Character of Government.  Dari keenam instrumen tersebut dua diantaranya belum dimilki bangsa ini yaitu, karakter pemimpin dan warga negaranya. Ketika kita menunggu kebijakan pemerintah tentang Ocean Policy belum kelihatan geliatnya, makin banyak penata kelola maritim, mulai dari Deapartemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, Direktorat jenderal Bea dan Cukai, TNI Angkatan Laut, Direktorat Jendera Imigrasi, Kementrian BUMN, Bakorkamla, Polairud, Coast Guard, lantas apakah yang dijadikan Pedoman badan badan ini apabila tidak memilki Ocean Policy yang jelas kendala akan sangat banyak ditemukan di lapangan karena tumpang tindihnya aturan yang ada.

Penulis tidak ingin mengajak untuk shifting ke laut namun marilah kita lihat kodrat bangsa kita sebagai negara kepulauan bahwa:

1. Negara kita negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17.448 pulau, sebagai ilustrasi apabila kita satu hari mengunjungi satu pulau maka di perlukan waktu 47 tahun, sungguh suatu anugrah Tuhan yang luar biasa.

2. Berada pada persimpangan dunia antara dua samudera dan dua benua, hal ini harus di yakini bahwa tersimpan kekayaan yang merupakan sebuah misteri yang harus di pecahkan bersama. Kenapa pendahulu nenek moyang bangsa ini bisa menjadikan negara maritim yang kuat (Sriwijaya, Majapahit,  Demak dan Indonesia sekitar tahun 1960 an). Oleh karena itu jangan hanya di baca tentang kebesarannya namun carilah tahu konsep apa yang di gunakan sehingga menjadi negera maritim yang besar. Pernahkah diantara kita mengetahui ?

3. Tepat di daerah tropis pada lintang 0°, masih ragukah akan kekayaan sumber daya alamnya, dengan flora dan fauna dengan berbagai jenis ikan, mampukah kita memanfaatkannya. Inilah seharusnya yang kita pikirkan bahwa laut tidak perlu dipupuk seperti lahan pertanian, tidak perlu disemai lautnya, tidak perlu memberikan makan ikan untuk memeliharanya. Kekayaan tersebut tinggal mengambil dan mengolahnya.  Incontrary yang terjadi malah pengusaha pengusaha nya dan orang orang  asing yang menikmatinya dan tetap saja nelayan yang miskin, ataukah miskin jadi nelayan.

4. Negeri kita memilki kompartemen strategis, Alur laut Kepulauan dari utara selatan yang terletak di tengah, barat dan timur bahkan ada negara yang mengklaim alur tradisional timur barat, dari selat lombok, laut jawa dan kebarat. Sudahkah kita memanfaatkannya sebaik baiknya dalam sendi sendi perekonomian, sosial-budaya dan pertahanan?.

5. Luasnya wilayah laut yang hampir mencapai 6 juta km persegi, serta terletak pada jalur pelayaran dunia. Mampukah kita mengamankan dan memanfaatkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara guna mencapai kemakmuran rakyat, khususnya pelayaran yang melintasi selat malaka. Dimana pelayaran tersebut merupakan salah satu center of gravity dari international merchandise.

Akhirnya untuk bangkit menuju kejayaan bangsa, wis gak usah muluk muluk strategi apa yang akan dipakai namun kenali dan benahi dulu jati diri sebagai penghuni negara kepulauan. Terapkan dalam pembentukan character of the people and goverment dalam penyusunan Ocean Policy. Bangsa yang memiliki karakter bahari tidak harus diartikan sebagai bangsa yang sebagian besar mengais upah sebagai nelayan, apalagi dikaitkan dengan slogan nelayan miskin atau miskin jadi nelayan, bangsa bahari adalah  bangsa yang menyadari kehidupan masa depannya tergantung pada bagaimana mengeksploitasi Sumber Daya Laut yang tepat dan benar. Intinya, selalu menoleh, menggali, dan memanfaatkan laut sebagai tulang punggung bangsa dan negara menuju kemakmuran rakyat. Ketika kamu di tanya tentang negaramu sebagai negara Kepulauan, apa pendapatmu? blank, diam, acuh tak mengerti, cuek ataukah kamu sudah mempunyai sikap. Ketika negara kamu di bilang negara koruptor, apa pendapatmu? Dengan cepat dan sigap pasti anda langsung menjawab, karena berita tentang korupsi di negeri ini hampir menjadi menu main course tiap pagi dan petang.

Semoga Tuhan membukakan mata bathin dari 250 juta lebih otak dan otot dari The Sleeping Giant ini, untuk bangkit dan mengulang kembali kejayaan bangsa sebagai bangsa maritim yang besar. “ In the sea we are Victorious” satu satunya negara di dunia yang memilki semboyan ini adalah Indonesia, bahkan semboyan Amerika, Inggris serta negara Maritim besar lainnyapun tidak memilki semboyan ini, tetapi apakah dilaut kita telah jaya? Silahkan dijawab rakyatku dari sabang sampai merauke. Kemana Raja kelana melambai kalau tidak ke pulau kelapa yang amat subur, pulau melati pujaan bangsa bangsa sejak dulu kala, itulah tanah air ku Indonesia.

 

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Seluruh tulisan yang dimuat di situs rajasamudera.com dilindungi oleh Undang-Undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Diperbolehkan untuk mengutip maupun menyebarluaskannya dengan syarat mencantumkan nama penulis dan link ke tulisan tersebut.

Seluruh tulisan di situs ini merupakan opini pribadi penulis, dan tidak mewakili institusi penulis.